Malam minggu kemarin teman saya mengajak menonton sebuah film bisu di Taman Budaya. Bagi saya ini pertama kalinya menyaksikan film bisu. Jadi film bisu ini benar-benar bisu, tidak ada suara percakapan yang terdengar. Unik juga. Acara ini diselenggarakan oleh Gothe Institut Bandung, sebuah lembaga bahasa & budaya Jerman.
Film tersebut berjudul Takdir/Destiny/Der müde Tod yang dirilis tahun 1921 oleh sutradara Fritz Lang. Melalui film ini Fritz Lang menjadi terkenal di kancah internasional. Sesuai zamannya maka film yang berdurasi 97 menit ini masih berwarna hitam putih. Tapi di situlah sisi sejarahnya.
Dalam pementasannya film ini diiringi oleh live orkestra pimpinan Pierre Oser. Film ini ditampilkan dalam sebuah layar putih lebar dimana di depannya duduk sekelompok pemusik orkestra. Dengan iringan suara orkestra halus yang telah direkam sebelumnya ditambah penampilan live dari orkestra tersebut, musik pun terdengar seperti orkestra yang besar. Sentuhan musik orkestra inilah yang memberi sentuhan emosional pada tiap adegan di film tersebut.
Walaupun diproduksi pada tahun 1921 tapi efek-efek yang dihadirkan dalam film ini sudah cukup baik. Alur ceritanya pun cukup jelas dan mudah dimengerti walau tanpa ada percakapan. Sesekali ada beberapa subtitle untuk membantu menjelaskan beberapa bagian tertentu. Apalagi diiringi alunan musik live orkestra menjadikan filem ini semakin lengkap.
Berikut ini sinopsis film tersebut (diambil dari sini):
“Destiny” – Jerman 1921, hitam putih, film bisu, 97 menit
Sutradara: Fritz Lang
Naskah: Thea von Harbou
Pemeran: Lil Dagover, Walter Jenssen dan Rudolf Klein-Rogge
Sepasang kekasih datang ke pengingapan; seorang asing yang menyeramkan sedang duduk di meja sebelah dan mengamati pasangan tersebut. Si wanita meninggalkan pasangannya sebentar, ketika kembali, dua-duanya, pacar dan orang asing itu, sudah menghilang. Dalam pencariannya, wanita itu tiba ke suatu pelataran yang sangat besar, dikelilingi oleh tembok tanpa pintu masuk. Si wanita putus asa dan pingsan, dan mulailah dia mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, tembok tiba-tiba terbuka. Orang asing tadi adalah kematian itu sendiri, yang membawa kekasihnya pergi. Kematian itu membawa si wanita ke satu ruangan penuh lilin. Lilin-lilin tersebut merupakan cahaya kehidupan manusia, yang menyala dan padam bila satu kehidupan berakhir. Tiga lilin sudah hampir mati, dan kalau si wanita berhasil menjaga satu lilin saja tetap menyala, maka dia bisa mendapatkan pasangannya kembali. Dalam tiga episode visioner digambarkan nasib dan kegagalan cinta wanita ini – di lokasi dan waktu yang berbeda, di Timur, di Itali pada zaman renaissance, dan di kekaisaran Cina.
Walaupun semua film-film Fritz Lang setelah film ini menunjukkan tanda Ekspresionisme Jerman, tetapi di dalam film “Destiny“ tanda-tanda itu paling jelas terlihat. Dalam film ini, semua elemen tertentu dari karya-karya awalnya, yaitu romantisme, kepercayaan pada nasib dan mistis melebur jadi satu. Melalui bentuk estetika yang kuat Fritz Lang berhasil memberi kesan yang realistis dan adikodrati. Teknik pencapaian efek yang luar biasa dalam film ini telah ikut menentukan genre film fantatis.